Komunikasi yang efektif ialah Cara yang benar dalam bersikap, penyampaian, dan pengucapan yang dipakai seseorang dalam memberikan pesan dan impian kepada orang lain sehingga tujuan utama sanggup tercapai. Prinsip dalam berkomunikasi ialah menghipnotis orang lain supaya mau berfikir, bersikap, dan mau bertindak sesuai impian kita.
Contoh : Atasan menegur anak buah.
artinya : Atasan sedang menghipnotis anak buahnya supaya menjadi sadar (bersikap) dan bertekad atau berjanji untuk memperbaiki kinerjanya (Bertindak).
Agar komunikasi Efektif, perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
Tetapkan target atau tujuan komunikasi.
Kepada siapa atau dengan siapa.
Tentukan tempat yang sesuai.
Tentukan Waktu yang tepat.
Kuasai Materi yang akan dibicarakan.
Kuasai Cara Berkomunikasi dengan benar
QUANTUM COMMUNICATION ialah tekhnik komunikasi efektif untuk menghipnotis orang lain secara eksklusif ke dalam pikiran bawah sadar audiens. Tekhnik ini disebut juga Subjective Communication atau TELEPATI. Ikuti Training QUANTUM COMMUNICATION di sini...
Definisi Komunikasi
Komunikasi ialah proses yang menggambarkan siapa menyampaikan apa dengan cara apa kepada siapa dengan imbas apa.
Komunikasi merupakan rangkaian proses pengalihan infromasi dari satu orang kepada orang lain dengan maksud tertentu
Komunikasi ialah proses yang melibatkan seseorang untuk memakai gejala (alamiah atau universal) berupa simbol-simbol (berdasarkan perjanjian manusia) verbal atau non verbal yang disadari atau tidak disadari yang bertujuan untuk memengaruhi sikap orang lain
Komunikasi merupakan proses pengalihan suatu maksud dari satu sumber kepada penerima, proses tersebut merupakan suatu seri aktivitas, rangkaian atau tahap-tahap yang memudahkan peralihan maksud tersebut.
Komunikasi ialah segala acara interaksi insan yang bersifat human relationships disertai dengan peralihan sejumlah fakta
Komunikasi merupakan interaksi antarpribadi yang memakai sistem simbol linguistik, menyerupai sistem simbol verbal (kata-kata), verbal dan non-verbal. Sistem ini sanggup disosialisasikan secara eksklusif / tatap muka atau melalui media lain (tulisan, oral dan visual)
Komunikasi ialah interaksi atau transaksi antara dua orang
Komunikasi sanggup diartikan sebagai pengalihan suatu pesan dari satu sumber kepada peserta supaya sanggup dipahami
Komunikasi merupakan setiap proses pertukaran informasi, gagasan dan perasaan. Proses ini mencakup informasi yang disampaikan baik secara mulut maupun tertulis dengan kata-kata, atau yang disampaikan dengan bahasa badan , gaya maupun penampilan diri, memakai alat bantu di sekeliling kita sehingga sebuah pesan menjadi lebih kaya
Komunikasi ialah (1) pernyataan diri yang efektif; (2) pertukaran pesan-pesan yang tertulis, pesan-pesan dalam percakapan, bahkan melalui imajinasi; (3) pertukaran informasi atau hiburan dengan kata-kata melalui percakapan atau dengan metoda lain; (4) pengalihan informasi dari seseorang kepada orang lain; (5) pertukaran makna antarpribadi dengan sistem simbol; dan (6) proses pengalihan pesan melalui susukan tertentu kepada orang lain dengan imbas tertentu
Dari aneka macam definisi diatas, komunikasi sebagai suatu acara insan selalu melibatkan :
Sumber komunikasi
Pesan komunikasi yang berbentuk verbal dan nonverbal
Media atau susukan sebagai sarana – wadah à tempat pesan atau rangkaian pesan dialihkan
Cara, alat, atau metoda untuk memindahkan pesan
Penerima atau target yang mendapatkan komunikasi
Tujuan dan maksud komunikasi
Rangkaian kegiatan antara sumber atau pengirim dengan target atau peserta Situasi komunikasi
Proses komunikasi, yakni proses satu arah, inter-aksi, dan proses trans-aksi
Pemberian makna bersama atas pesan dari sumber dan peserta yang terlibat dalam komunikasi
Pembagian pengalaman atas pesan yang dipertukarkan dari sumber dan peserta yang terlibat dalam komunikasi
Unsur-unsur komunikasi
Pengirim (sender) atau sumber (resource) – ialah individu, kelompok atau organisasi berperan untuk mengalihkan (transferring) pesan, biasa disebut komunikator
Encoding – pengalihan gagasan ke dalam pesan
Pesan (message) – gagasan yang dinyatakan oleh pengirim kepada orang lain. Pesan ada dua macam, pesan verbal dan pesan non verbal. Pesan verbal, semua jenis komunikasi mulut yang memakai satu kata atau lebih. Pesan non verbal, mencakup seluruh aspek nonverbal dalam sikap kita: ekspresi wajah, sikap tubuh, nada suara, gerakan tangan, cara berpakaian, dan sebagainya. Singkat kata, pesan nonverbal itu ialah pesan-pesan yang mencakup semua pesan yang disampaikan tanpa kata-kata atau selain dari kata-kata yang kita gunakan.
Saluran (media) – media dari komunikasi, merupakan tempat di mana sumber menyalurkan pesan kepada penerima, contohnya melalui percakapan, SMS, tulisan
Decoding – ialah pengalihan pesan ke dalam gagasan
Penerima (reciever) – individu atau kelompok yang mendapatkan pesan, biasa disebut dengan komunikan
Umpan balik (feed back) – reaksi terhadap pesan
Gangguan (noise) – segala sesuatu yang mengubah informasi yang disampaikan kepada peserta atau mengalihkannya dari penerimaan tersebut. Ada dua macam gangguan; gangguan teknis dan gangguan semantik. Gangguan teknis contohnya orang yang mengalami kesulitan bicara atau bicaranya hanya komat-kamit. Gangguan semantik, bila peserta memberi arti yang berlainan atas sinyal yang disampaikan oleh pengirim.
Bidang pengalaman (field of experience) – bidang atau ruang yang menjadi latar belakang informasi dari pengirim maupun penerima
Pertukaran makna (shared meaning) – bidang atau ruang pertemuan (irisan) yang tercipta lantaran kebersamaan
Konteks (context) – situasi, suasana atau lingkungan fisik, non fisik (sosiologis – antropologis, politik, ekonomi dan lain-lain).
Seni Komunikasi Yang Efektif
Komunikasi efektif terdiri dari dua istilah: komunikasi dan efektif. Komunikasi ialah proses memberikan atau menyebarkan informasi, pikiran, dan perasaan melalui lisan, tulisan, atau bahasa tubuh.
Efektif, berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), berarti “ada efeknya” (akibatnya, pengaruhnya, kesannya) atau “dapat membawa hasil; berhasil guna”. Kata efektif juga sering diartikan sebagai “mencapai target yang diinginkan”.
Dengan demikian, komunikasi efektif (effective communication) sanggup diartikan sebagai “komunikasi yang berhasil mencapai tujuan, menyerupai diterima, dipahami, mengubah persepsi, dan mengubah sikap atau melaksanakan aksi”.
Banyak tips diberikan para andal komunikasi untuk melaksanakan komunikasi efektif, contohnya gunakan bahasa yang gampang dimengerti, bahasa badan yang sesuai, intonasi yang tepat, kontak mata, dan ekspresi wajah yang pas, termasuk menjadi pendengar yang aktif (active listening).
Formula 7C
Komunikasi efektif mengandung tujuh C berikut ini:
Completeness, Lengkap!
Komunikasi harus lengkap. Menyampaikan semua fakta yang dibutuhkan oleh penerima. Dalam dunia jurnalistik, kelengkapan informasi dirumuskan dalam 5W+1H (What, Who, When, Where, Why, How).
Conciseness, Ringkas!
Menggunakan sesedikit mungkin kata-kata. Menghindari memakai kata-kata yang hiperbola dan tidak perlu. Pesan singkat lebih menarik dan gampang dipahami. Gunakan kalimat seefektif mungkin.
Consideration, Penuh Pertimbangan!
Memperhatikan sudut pandang orang lain, pola pikir, tingkat pendidikan, minat, kebutuha, kepentingan, dan emosinya.
Clarity, Jelas!
Menggunakan kata-kata yang tepat, bermakna tunggal, dan membingungkan atau menjadikan persepsi lain.
Concreteness, Nyata!
Konkret memperkuat kepercayaan. Pesan kasatmata didukung fakta-fakta spesifik dan angka. Pesan kasatmata tidak disalahtafsirkan.
Courtesy, Tata Krama!
Ini soal cara penyampaian. Pesan disampaikan dengan tulus, sopan, bijak, reflektif, dan antusias, serta mempertimbangkan sudut pandang dan perasaan peserta pesan, termasuk menjaga perasaan dan respek terhadap peserta pesan.
Correctness, Benar!
Pesan yang disampaikan harus benar dari segi substansi dan tata bahasa, juga sempurna dari sisi waktu dan sasaran.
Lima Hukum Komunikasi Efektif: REACH
Rumus lain yang ditawarkan para andal ialah konsep REACH yang disebut “The 5 Inevitable Laws of Efffective Communication”, yakni Respect, Empathy, Audible, Clear, dan Humble.
Respect.
Menghargai komunikan atau menjaga harga diri orang lain.
Empathy.
Kemampuan menempatkan diri kita pada situasi atau kondisi yang dihadapi oleh orang lain. Ini diawali dengan kemampuan mendengarkan atau mengerti terlebih dulu sebelum didengarkan atau dimengerti oleh orang lain. Empati bisa juga berarti kemampuan untuk mendengar dan siap mendapatkan masukan ataupun umpan balik apapun dengan sikap yang positif.
Audible.
Dapat didengarkan atau dimengerti dengan baik.
Clarity .
Pesan yang disampaikan jelas, tidak menjadikan multiinterpretasi atau aneka macam penafsiran yang berlainan. Clarity sanggup pula berarti keterbukaan dan transparansi.
Humble.
Rendah hati, tidak besar kepala atau arogan, tidak merasa “lebih” dari orang lain, termasuk di dalamnya tidak memandang rendah orang lain, berani mengakui kesalahan, rela memaafkan, dan lemah-lembut.
Irresistible Communication : Komunikasi Tanpa Penolakan
Mungkin Anda pernah kenal seseorang menyerupai Jaka yang nampak selalu sukses di kantor? Secara konstan kariernya terus melaju, sekalipun tak pernah secara terang kualitas yang dimilikinya. Jika diamati, bahkan tak ada sedikitpun tanda tanda mempunyai kecerdasan yang luar biasa, atau gelar akademik dari luar negeri.
Kedengarannya, apapun yang dilakukannya cenderung menerima anggukan dari atasan. Saat meeting, pendapatnya kerap menerima support dari rekan kerjanya. Bawahannya pun betah bekerjasama. Mereka bahagia memperlihatkan pinjaman kepadanya. Orang semacam Jaka, sekalipun acapkali tidak berhasil menuntaskan suatu kiprah dengan baik, namun ia selalu tetap dipertimbangkan untuk mengerjakan project selanjutnya. Jaka tidak memanfatkan senioritas, tidak pula bermain intrik atau memakai keterdekatannya dengan Pimpinan. Kaprikornus apa yang bersama-sama terjadi?
Jika diamati lebih dekat, kita akan menemukan suatu kekuatan yang ia miliki yang mungkin diperoleh secara alamiah. Itulah ketrampilan menjalin hubungan. Atau dalam istilah Neuro Linguistic Programming (NLP) disebut sebagai the skill of rapport building. Kekuatan semacam ini yang seolah olah membuatnya selalu sanggup tune in dalam “panjang gelombang” yang sama dengan setiap orang. Ia mempunyai kemampuan “menjual” dirinya secara konsisten pada setiap orang disekelilingnya. Ia menyadari bahwa dalam setiap situasi perlu membuat persahabatan supaya dimasa depan sanggup melaksanakan kekerabatan dalam bentuk win win. Bukankah seringkali kita mendengar orang menyesal semacam ini “Ah, seandainya saya kenal si A dengan baik, tentu saja saya akan bisa minta tolong dengan lebih nyaman sekarang. “
Kabar baiknya sekalipun kita tak punya kemampuan menyerupai Jaka, yang seakan bawaan lahir, ternyata kita bisa mempelajarinya dengan cukup mudah. Saat ini sudah berkembang pesat sebuah bidang gres yang dikenal dengan Neuro Linguistic Programming (NLP). Melalui NLP orang sanggup memodel keunggulan setiap orang lain, lantaran NLP bisa memecah instruksi kode sukses yang dimiliki orang orang yang berhasil sehingga sanggup diduplikasi oleh setiap orang.
Ada aneka macam teknik rapport yang dikembangkan dalam NLP. Dalam goresan pena ini kita akan mempelajari beberapa teknik yang basic. Jangan terkecoh dengan istilah basic, lantaran dibalik kesederhanaan hal basic itu menyimpan kekuatan kekerabatan yang sangat powerful. Teknik ini bahkan Anda sanggup pergunakan pada orang yang gres Anda kenal. Yang penting ialah keberanian dan konsistensi melatihnya. Sejalan dengan seringnya dilatih, maka akan terasa berjalan normal dan wajar.
Rapport Building
Komunikasi ternyata menyerupai dengan situasi penjualan, sekitar 83% keberhasilannya ditentukan bila pembeli menyukai penjual. Kata kunci dari menyukai ialah adanya rasa kesamaan di antara keduanya. Seseorang menyukai orang lain bila ada sesuatu yang sama antara dirinya dengan diri orang lain tersebut.
Anda niscaya pernah berkenalan dengan mitra baru, bila tertarik dengannya, maka pembicaraan secara otomatis akan mencari kesamaan diantara anda berdua. Misal menanyakan asal undangan daerah, asal sekolah, atau hal yang lainnya. Jika ternyata kita mempunyai kesamaan, rasanya datang tiba dekat dengan mitra gres itu. Kesamaan membuat orang saling menyukai, bila sudah suka akan mempercepat munculnya proses percaya (trust).
Kepercayaan kepada kita akan membuat mereka merasa Anda berada di pihaknya. Orang membeli kepercayaan terlebih dahulu, gres membeli inspirasi kita. Dalam aneka macam percobaan sosial, para peneliti telah melaporkan bahwa kepercayaan itu amat penting bagi sukses komunikasi. Kalau sudah ada kepercayaan, orang akan lebih gampang mendapatkan saran saran, memperlihatkan lebih banyak waktu dan secara terbuka berbicara dengan kita, bahkan pada hal-hal yang terkadang sensitif.
Secara umum NLP menganjurkan 2 cara membangun pondasi kesamaan supaya kita disukai orang lain dalam berkomunikasi, yaitu :
Bangun pondasi kesamaan fisiologis / postur tubuh
Bangun pondasi kesamaan dalam berkata kata.
Dua hal ini yang akan memunculkan suatu kepercayaan bila dibangun dengan sungguh sungguh, yang kemudian akan menghasilkan suatu proses komunikasi yang mulus dan harmonis.
Sebagai ilustrasi pondasi yang pertama, Lady Diana populer cendekia menjalin kekerabatan dengan semua orang, bahkan pada anak yang masih kecil. Namun sedikit yang tahu bahwa itu bukan talenta yang dibawa semenjak lahir. Lady Diana berguru memodel dunia anak anak dari guru NLP, Anthony Robbins. Saat mendekati anak, Lady Di akan berjongkok dan memasang muka menyerupai anak-anak. Berjongkok berarti menyamakan fisiologis / postur dalam hal ketinggian tubuh, supaya sanggup masuk ke model dunia (model of the world) anak anak. Ia juga memasang mimik muka anak-anak, supaya tidak terlihat wajah analitis yang hanya dimiliki orng dewasa. Bisa dicatat disini, menyamakan postur fisiologi orang lain ialah cara tercepat untuk membentuk hubungan, cara ini biasa disebut mirrorring (bercermin).
Pengalaman mendermin tanpa sadar ini mungkin pernah terjadi pada Anda. Pada dikala berbicara dengan mitra bersahabat dan terjadi kecocokan, makin usang posisi badan keduanya semakin menyerupai satu sama lain menyerupai layaknya orang bercermin. Bahkan bila anda perhatikan lebih jauh, tampaknya saling menirukan tanpa disadari. Proses pencerminan ini terjadi dalam level alam bawah sadar.
Dari kedua pola di atas, maka dengan sengaja kita sanggup melaksanakan pencerminan untuk mendapatkan rapport pada orang lain secara mendalam dan cepat. Menariknya, yang sanggup kita cermin bukan hanya postur badan (gesture), namun kita juga bisa mencermin pola nafas (kecepatan, posisi tekanan), gerak mata, rona wajah, tinggi rendah suara, kecepatan berbicara, dll. Kurangi atau tambah kecepatan bicara Anda sesuai dengan kecepatan lawan bicara. Anda, demikian juga dengan tinggi rendah nada suara. Mereka akan merasa sangat nyaman, lantaran merasa sama dengan kita.
Mirrorring berbeda dengan “mimicking”, mirrorring harus dilakukan dengan sangat subtle (tidak kentara), sehingga alam sadar lawan bicara tidak mengenalnya namun dikenali oleh alam bawah sadar. Untuk meningkatkan ketidakkentaraan, Anda sanggup melaksanakan cross mirrorring, yakni melakukannya dengan sedikit berbeda namun esensinya mirip. Semisal lawan bicara menggerakkan tangan kiri, maka Anda sanggup menggerakkan tangan kanan. Semisal ia menumpangkan kaki kanannya di atas kaki kiri, maka Anda sanggup melaksanakan dengan menyilangkan kaki kanan di depan kaki kiri tanpa menumpangkannya. Anda juga bisa melaksanakan yang disebut matching, yakni bila lawan bicara menyilangkan tangan maka kita menyilangkan kaki. Matching ialah melaksanakan pencerminan dengan bab anggota badan yang berbeda.
Harus dicatat, mirrorring mempunyai esensi ‘respek’, yakni ingin memhami alam pikiran orang lain lantaran kita merespeknya dengan cara menyamakan posisi tubuhnya. Sedangnya mimicking ialah meniru-niru gerakan orang lain tanpa respek.
Pondasi kesamaan yang kedua ialah menyamakan kata kata (verbal mirrorring). Menyamakan kata-kata dalam NLP tidaklah sekedar menyamakan kata yang diucapkan oleh lawan bicara. Yang disamakan ialah sesuatu yang disebut predikat, yang memperlihatkan preferensi pikiran lawan bicara dalam mengolah informasi.
PREFERENSI SISTEM PENAFSIRAN DAN PREDIKAT
NLP secara umum membagi empat cara dasar insan dalam menafsirkan dunia sekitar mereka:
orang dengan preferensi Visual (V),
orang dengan preferensi Auditorial (A),
orang dengan preferensi Kinestetik (K) dan
orang dengan preferensi Auditorial Digital (Ad).
Orang dengan preferensi V melihat dunia, orang dengan preferensi A mendengarnya, orang dengan preferensi K merasakannya, sedangkan orang dengan preferensi Ad mendengarkannya dengan kata-kata sendiri (konseptualisasi).
Keempat cara ini akan membentuk peta peta mental, yakni cara seseorang mengorganisasikan semua stimulus yang diterima. Sistem sistem itu menolong kita memahami dunia dan bekerjasama dengannya. Dengan peta peta mental ini sebagai petunjuk, kita membuat keputusan keputusan perihal bagaimana menanggapi apa saja yang terjadi di sekitar kita. Penggunaan peta mental ini berlangsung secara tak sadar. Seseorang secara tidak secara sadar menentukan peta mana yang akan digunakannya untuk berkomunikasi dan terjadi secara konsisten.
Oleh alasannya ialah itu, bila Anda mengetahui bagaimana membaca peta mental seseorang, berarti Anda mempunyai alat yang maha dahsyat untuk mengetahui bagaimana pikiran seseorang bekerja. Para manajer yang mengetahui peta peta mental yang dipakai oleh anak buahnya, akan memperoleh hasil lebih balk. Dasarnya ialah lantaran secara harfiah, mereka sanggup memahami cara anak buahnya dalam berpikir dan mengolah informasi selama bekerja.
Salah satu cara untuk mengetahui peta mental orang lain termasuk tipenya sanggup dilakukan dengan jalan mengamati predikat yang dipakai dalam berbicara. Orang visual akan mengatakan: “Saya bisa melihat point penting yang Anda maksudkan.” Sedangkan orang auditorial akan menyampaikan “Kedengarannya inspirasi Anda cukup menarik”. Sementara orang kinestetik akan mengucapkan “Saya sanggup mencicipi kekuatan yang tersembunyi dari gagasan Anda.” Disisi lain seorang bepreferensi Ad akan menyampaikan “Setelah saya renungkan, gagasan Anda bisa saya terima.”
Dengan mengamati kecenderungan penggunaan predikat yang dipergunakan oleh seseorang secara ekstensif, maka kita bisa mengetahui preferensi berpikirnya. Dengan demikian, dikala berbicara dengannya, gunakan predikat yang cenderung sama dengan yang dipergunakannya. Misalkan calon pembeli menyampaikan “Hhmmm, nampaknya menarik, namun saya belum melihat apa laba saya bila membeli jasa yang Anda tawarkan ?”. Maka kita bisa menjawab: ”Oke, kelihatannya Anda sangat menguasai problem ini, bila jasa ini kita pandang dari perspektif investasi, maka…”
Dengan jalan ini lawan bicara tak perlu menerjemahkan ulang kata kata kita dalam modus yang cenderung mereka sukai, sehingga ia terhindar dari kebingungan menangkap maksud kita. Kaprikornus bila Anda tidak berkomunikasi dengan orang lain berdasarkan cara yang mereka sukai, bahayanya ialah pembicaraan Anda akan menjadi tidak gampang dicerna oleh lawan bicara.
Mempraktekkan ketiga hal basic ini saja sudah akan menjadikan Anda sebagai irresistible communicator (selalu diterima orang lain). Terlebih bila Anda. bisa menguasai skill dan teknik NLP lainnya. Tentunya ketrampilan yang kita bahas diatas bisa dipergunakan dalam lingkup keluarga, kekerabatan pertemanan, sosial, pacaran dan sebagainya.
Irresistible Communication : Komunikasi Tanpa Penolakan
By: Ronny F. Ronodirdjo, Posted in www.yannurindra.com